Warisan Kolonialisme, Diskriminasi, dan Tingginya Biaya Hidup:
Area yang Perlu Ditingkatkan dalam Sistem Pendidikan Kanada
Ditulis oleh Enes Gisi
Kanada adalah negara kaya dengan sumber daya alam yang melimpah dan salah satu PDB (Produk Domestik Bruto) tertinggi di dunia. Namun, di balik kekayaan ini, terdapat ketimpangan yang mendalam dalam akses terhadap pendidikan berkualitas. Hambatan-hambatan dalam pendidikan ini tidak selalu terbatas pada gedung sekolah, karena masyarakat Pribumi di Kanada masih merasakan dampak dari masa kolonial hingga hari ini. Tantangan lain dalam pendidikan termasuk kekerasan seksual terhadap anak-anak, ketidakamanan pangan, dan kurangnya tempat tinggal bagi mahasiswa. Mengatasi tantangan-tantangan ini menjadi sulit karena terdapat tiga tingkat pemerintahan – federal, provinsi, dan kota – yang masing-masing bertanggung jawab atas sebagian dari masalah tersebut. Mengambil tindakan yang cepat dan efektif menjadi tantangan bagi birokrasi Kanada. Terkadang, tingkat pemerintahan melemparkan tanggung jawab satu sama lain, sehingga warga Kanada bingung tentang siapa yang seharusnya bertanggung jawab.

Anak-anak di Fort Simpson Indian Residential School memegang surat bertuliskan “Selamat tinggal,” Fort Simpson, Northwest Territories, 1922. Foto oleh JF Moran. Perpustakaan dan Arsip Kanada di Wikimedia Commons.
Akses Pendidikan bagi Masyarakat Pribumi di Kanada
Untuk memahami mengapa sistem pendidikan masyarakat Pribumi mengalami banyak masalah, penting untuk menyelidiki ketidakadilan historis yang mereka alami. Masyarakat Pribumi (juga disebut sebagai “Aboriginal peoples”) adalah penduduk asli dari tanah yang sekarang kita kenal sebagai Kanada. Penjajahan terhadap tanah ini dimulai pada abad ke-16 dengan kedatangan penjajah Inggris dan Prancis. Masyarakat Pribumi disebut sebagai “biadab” dan dianggap “kurang beradab” dibandingkan dengan orang Kanada keturunan Eropa (“Lower Education”, 2023). Sejak awal abad ke-17, berbagai bentuk sistem pendidikan mulai didirikan (Gordon & White, 2014). Sistem awal yang dibentuk oleh penjajah Prancis dirancang untuk mengasimilasi masyarakat Pribumi ke dalam budaya Prancis. Awalnya, penjajah Inggris bersekutu dengan masyarakat Pribumi untuk melawan Prancis dan Amerika. Namun, kebijakan mereka kemudian berubah, dengan tujuan yang sama: “mensivilisasi” masyarakat Pribumi. Hingga tahun 1951, anak-anak Pribumi dipisahkan secara paksa dari keluarga mereka dan ditempatkan di sekolah asrama, di mana mereka dilarang berbicara dalam bahasa asli mereka dan menjalankan budaya mereka, semua demi “mengembalikan” mereka dari “keadaan barbar” (Wilson, 1986, hlm. 66, dikutip dalam Gordon & White, 2014). Mereka menerima pendidikan yang berkualitas rendah dan mengalami kekerasan fisik, emosional, serta seksual (White & Peters, 2009 dikutip dalam Gordon & White, 2014). Saat kembali ke rumah, mereka tidak lagi mampu menjalin hubungan dengan keluarga maupun msayarakat non-Pribumi. (“What Is The Root Cause Of Indigenous Education Issues”, 2015). Sekolah asrama terakhir ditutup pada tahun 1996, namun warisan kolonialisme dan kelalaian pemerintah federal masih mempengaruhi anak-anak Pribumi hingga kini.
Perumahan
Masyarakat Adat memiliki tingkat tunawisma yang jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata warga Kanada (“Inadequate Housing And Crowded Living Conditions”, 2023). Namun, masalah kekurangan perumahan ini mungkin lebih erat kaitannya dengan keberhasilan siswa. Hampir 25 persen anak masyarakat Adat di bawah usia 15 tahun tinggal di keluarga berpenghasilan rendah, dua kali lipat dibandingkan anak-anak non-masyarakat adat (“Inadequate Housing And Crowded Living Conditions”, 2023). Salah satu dampaknya adalah banyak keluarga tinggal di rumah yang terlalu kecil untuk kebutuhan mereka. Siswa Pribumi yang tinggal di rumah yang penuh sesak mungkin tidak bisa tidur cukup atau belajar dengan tenang. Hal ini pada akhirnya berdampak pada kesehatan mental, prestasi sekolah, serta prospek pendidikan lanjutan dan pekerjaan mereka.
Tingkat Kelulusan
Tingkat kelulusan sekolah menengah anak-anak masyarakat adat yang tinggal di wilayah reservasi (tanah yang dikhususkan untuk masyarakat First Nations) hanya sebesar 24 persen. Angka ini awalnya disalahartikan oleh pemerintah Kanada yang merilis laporan dengan menyebut angka 46 persen (Coates, 2022). Perhitungan tersebut tidak memperhitungkan siswa yang putus sekolah antara kelas 9 dan 11. Menurut laporan dari Auditor Jenderal Kanada, pemerintah Kanada juga lalai dalam tanggung jawab pelaporannya terkait pendidikan masyarakat adat, hanya melaporkan 6 dari 23 hasil pendidikan yang seharusnya dilaporkan (Office of the Auditor General of Canada, 2018).
Meskipun anak-anak masyarakat Pribumi yang tinggal di luar reservasi umumnya memiliki prospek pendidikan yang lebih baik dibandingkan yang tinggal di dalam reservasi, tingkat kelulusan mereka tetap lebih rendah dibandingkan anak-anak non-Pribumi. Menurut laporan tahun 2021, tingkat kelulusan tepat waktu dari sekolah provinsi di Saskatchewan adalah 88,7 persen. Di antara para siswa tersebut, tingkat kelulusan tepat waktu siswa Pribumi hanya 44,7 persen (Clemett, 2023).
Dalam pendidikan tinggi, data juga menunjukkan ketimpangan. Masyarakat First Nations, salah satu dari tiga kelompok dalam populasi Pribumi, memiliki tingkat penyelesaian atau partisipasi terbaru dalam pendidikan tinggi sebesar 37 persen. Sebagai perbandingan, angka ini mencapai 72 persen pada individu non-Pribumi (Layton, 2023).

Mahasiswa, mantan perdana menteri British Columbia, mantan menteri British Columbia, dan pemimpin masyarakat adat berkumpul di sekitar api unggun. Gambar dari Flickr oleh @bchovphotos.
Pendanaan dan Sumber Daya Sekolah
Banyak siswa Pribumi bersekolah dalam kondisi yang sulit dan membutuhkan dukungan tambahan dari sistem pendidikan. Sebagian besar siswa Pribumi di wilayah reservasi tidak dapat melanjutkan studi mereka tanpa dukungan dari sekolah atau intervensi langsung (Coates, 2022). Di sebagian besar sekolah di Kanada, mungkin 80 persen siswa dapat berhasil tanpa layanan berbasis sekolah atau intervensi. Namun, sejumlah besar siswa Pribumi di wilayah reservasi, terkadang satu dari tiga atau lebih, membutuhkan dukungan yang ekstensif dari sekolah mereka agar bisa berhasil.
Kemampuan sekolah di wilayah reservasi untuk menyediakan layanan kepada siswa mereka terbatas karena kurangnya pendanaan dari pemerintah federal. Sekolah First Nations menerima pendanaan per siswa 30 persen lebih rendah dibandingkan sekolah lainnya (Dart, tanpa tahun). Hal ini menyebabkan satu hal yang jelas: anak-anak Pribumi dirugikan. Mereka tidak memiliki banyak akses terhadap pekerja sosial, profesional kesehatan mental, dan pengajar pendidikan khusus. Alethea Wallace, mantan kepala sekolah Alexis School, sebuah sekolah First Nation, menjelaskan bagaimana kurangnya pendanaan berdampak pada sekolah (Hampshire, tanpa tahun). Ia mengatakan bahwa sekolah tidak dapat menawarkan program seni, drama, dan musik karena keterbatasan dana. Sekolah juga tidak memiliki laboratorium sains atau komputer. Beberapa bagian sekolah digunakan untuk keperluan lain: perpustakaan dan kantor petugas kebersihan dijadikan ruang kelas. Kristina Alexis, seorang siswa dari sekolah tersebut, mengatakan bahwa kelasnya menggabungkan dua kelas dalam satu ruangan, dengan dua guru mengajar mata pelajaran yang berbeda. Kelas-kelas terlalu penuh, dan sebagian besar ruang kelas dibagi antara dua tingkat kelas.
Evan Taypotat, mantan kepala sekolah Chief Kahkewistahaw Community School, dan kini kepala Kahkewistahaw First Nation, mengatakan “Pendanaan rata-rata untuk anak di wilayah reservasi sekitar $6.800 (Dart, t.t). Sementara itu, pendanaan untuk anak di Broadview, yang hanya sekitar 10 menit jauhnya, adalah $11.000.” Kenaikan pendanaan federal untuk sekolah reservasi dibatasi hanya 2 persen per tahun, lebih rendah dari tingkat inflasi di Kanada. Ada dua isu utama yang saat ini diperjuangkan oleh pemimpin Pribumi: memperoleh kendali atas alokasi dana pendidikan federal dan memperjuangkan lebih banyak pendanaan agar setara dengan sekolah lain. Memberikan kendali kepada masyarakat First Nations atas bagaimana uang tersebut dibelanjakan dapat memungkinkan mereka menerapkan sistem yang lebih sesuai dengan budaya mereka.

Seorang siswa menindas teman sekelasnya yang sedang duduk di mejanya. Foto oleh proyek RDNE Stock
dari Pexels.
Rasisme, Eksklusi, dan Kekerasan di Sekolah
Sebuah laporan komprehensif tahun 2023 dari Children First Canada menunjukkan bahwa perundungan dan kekerasan di antara anak-anak Kanada telah menjadi ancaman serius bagi kesejahteraan mereka. Siswa menghindari pergi ke toilet karena takut dibully, bahkan jika harus mengotori diri mereka. Perundungan terjadi di sekolah maupun secara daring. Laporan ini menyebutkan bahwa 7 dari 10 siswa usia 15 hingga 17 tahun mengalami perundungan. Kekerasan dan ujaran kebencian masih menjadi masalah besar di lingkungan sekolah dan olahraga.
Sebagian besar siswa penyandang disabilitas mengalami diskriminasi dan eksklusi. Menurut laporan tahun 2022 dari New Brunswick Office of the Child, Youth, and Seniors’ Advocate, hanya 1 dari 5 siswa penyandang disabilitas yang merasa memiliki rasa kebersamaan, dan mereka sering merasa tidak aman di sekolah. Partisipasi mereka dalam olahraga juga lebih rendah dibandingkan teman-teman mereka.
Jacqueline, seorang siswi Yahudi-Kanada di Toronto, mengatakan ia mengalami antisemitisme karena beberapa orang membuat referensi kepada Hitler atau menggambar simbol swastika. Ia mengatakan tindakan ini dianggap lucu oleh sebagian orang. Ia merasa pendidikan Holocaust di sekolah tidak cukup untuk melawan konten kebencian yang beredar di internet.
Statistik kekerasan seksual sangat mengkhawatirkan. Menurut laporan 2022 dari Canadian Centre for Child Protection, antara 2017 hingga 2021, “setidaknya 548 anak dan remaja” dari TK hingga kelas 12 “mengalami tindakan bermuatan seksual oleh 252 personel sekolah”, dan 38 orang dikenakan tuntutan pidana terkait konten digital ilegal yang melibatkan anak di bawah umur.
Siswa beragama dari Quebec menghadapi tantangan diskriminatif akibat arahan dari Menteri Pendidikan Quebec, Bernard Drainville, yang melarang “segala bentuk aktivitas keagamaan” di sekolah dan pusat pendidikan lainnya. Menurut tuntutan hukum terhadap larangan tersebut, siswa Muslim telah berdoa di area khusus di sekolah selama berbulan-bulan tanpa masalah. Seorang ayah dari siswa Muslim di Quebec mengatakan bahwa anaknya kini harus berdoa diam-diam, tanpa tahu apa konsekuensinya jika ketahuan.

Pekerja yang menangani keranjang makanan. Gambar melalui Flickr, oleh @bcgovphotos.
Ketidakamanan Pangan
Kanada adalah satu-satunya negara G7 yang tidak memiliki program makanan sekolah nasional. Banyak siswa Kanada bergantung pada program makanan yang dibiayai oleh provinsi dan lembaga amal. Satu dari lima, atau sekitar satu juta siswa, menerima bantuan dalam bentuk makanan dan camilan. Seorang asisten pendidikan di Ontario mengatakan bahwa beberapa siswa tidak akan bisa datang ke sekolah jika tidak disediakan makanan. Lembaga amal yang bekerja sama dengan sekolah mengatakan bahwa permintaan yang meningkat membebani anggaran mereka. Anak-anak kulit hitam dan Pribumi di luar reservasi lebih mungkin mengalami ketidakamanan pangan dibandingkan anak-anak kulit putih.
Keterjangkauan Pendidikan Tinggi
Tingginya biaya hidup membuat mahasiswa tidak mampu membayar makanan dan sewa tempat tinggal. Lebih dari 60% mahasiswa melaporkan penghasilan kurang dari 20.000 dolar per tahun, dan hampir 3 dari 4 mahasiswa (72%) mengalokasikan 30% atau lebih dari pendapatan mereka untuk membayar sewa. Pusat Kesehatan Mental dan Kecanduan menyatakan bahwa ada krisis kekurangan tempat tinggal yang terjangkau di Kanada. Mateusz, perwakilan Serikat Mahasiswa Universitas Calgary, mengatakan bahwa universitas tidak bertanggung jawab karena menerima terlalu banyak mahasiswa tanpa menyediakan perumahan. Ia mengatakan bahwa harga sewa melonjak dan menyebutkan adanya krisis tempat tinggal. Beberapa mahasiswa bahkan tinggal di dalam mobil mereka di Calgary. Ada juga mahasiswa yang hanya bisa menemukan tempat tinggal di daerah terpencil, sehingga perjalanan ke kampus menjadi masalah. Selain itu, dua dari lima mahasiswa mengalami ketidakamanan pangan, lebih dari setengahnya hanya mampu membeli makanan berkualitas rendah, dan satu dari enam mahasiswa mengatakan mereka pernah tidak makan sama sekali selama beberapa hari.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Hak masyarakat Pribumi dilindungi oleh hukum internasional, yang paling utama melalui Deklarasi PBB tentang Hak Masyarakat Adat. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (TRC) Kanada merupakan langkah penting ke arah yang benar. Ini adalah inisiatif pemerintah yang bertugas mengumpulkan kesaksian dari korban sistem sekolah asrama. Komisi ini membantu menciptakan kesadaran publik dan mendorong tindakan lebih lanjut untuk berdamai dengan masyarakat Pribumi. Jack Harris, mantan anggota parlemen dari Partai Demokratik Nasional, menyebutkan bahwa catatan buruk Kanada dalam hak masyarakat Pribumi bisa menjadi salah satu alasan mengapa Kanada gagal meraih kursi sementara di Dewan Keamanan PBB pada 2020. Menyediakan alat hukum dan material yang diperlukan kepada komunitas Pribumi untuk menawarkan pendidikan berkualitas yang sesuai budaya mereka harus menjadi prioritas Kanada.
Tantangan besar lainnya adalah meningkatnya biaya hidup. Semakin banyak mahasiswa yang mengalami ketidakamanan pangan dan tempat tinggal – dua hal yang seharusnya tidak menjadi kekhawatiran saat menempuh pendidikan tinggi. Dari mahasiswa yang tinggal di mobil hingga yang tinggal di rumah padat penghuni, tingginya biaya hidup di Kanada berdampak pada kesejahteraan mereka. Pinjaman dan hibah mahasiswa yang lebih baik, serta lebih banyak asrama dari universitas, dapat menjadi solusi.
Referensi
- Alphonso, C. (2023, March 15). With food costs soaring and no national program, Canadian schools struggle to feed students. The Globe and Mail.
https://www.theglobeandmail.com/canada/article-school-food-programs-rising-costs/
- Cameron, A. C., Grant, R., Kemle, A. (2023, August 16). Living in the Red. Canadian Alliance of Student Associations.
https://assets.nationbuilder.com/casaacae/pages/3587/attachments/original/1692213033/Livin gInTheRed.pdf?1692213033
- Center for Addiction and Mental Health. (2022, February). Housing and Mental Health
Policy Framework. Center for Addiction and Mental Health. https://www.camh.ca/-
/media/files/pdfs—public-policy-submissions/housing-policy-framework-pdf.pdf
- Children First Canada. (2023, August). Top 10 Threats to Childhood in Canada. Children
First Canada. https://childrenfirstcanada.org/wp-content/uploads/2023/08/Raising-Canada2023_V1d.pdf
- Clemett, T. (2023, June). Report of the Provincial Auditor to the Legislative Assembly of Saskatchewan. Provincial Auditor of Saskatchewan.
https://auditor.sk.ca/pub/publications/public_reports/2023/Volume%201/2023-report-volume-
1.pdf
- Coates, K. (2022, May 18). Indigenous education can and must be fixed: Ken Coates for Inside Policy. Macdonald-Laurier Institute. https://macdonaldlaurier.ca/indigenous-educationcan-and-must-be-fixed-ken-coates-for-inside-policy/
- Dart, C. First Nations Schools Are Chronically Underfunded. CBC Docs.
https://www.cbc.ca/cbcdocspov/features/first-nations-schools-are-chronically-underfunded
- Derworiz, C. (2023, August 26). University students struggling to find housing amid affordability crisis. Global News. https://globalnews.ca/news/9921724/university-studentshousing-affordability-crisis/
- Feith, J. (2023, June 13). Quebec’s school prayer ban infringes on religious rights, groups argue. Montreal Gazette. https://montrealgazette.com/news/quebec/groups-challenge-quebecschool-prayer-ban-in-court
- Gordon, C. E., White, J. P. (2014). Indigenous Educational Attainment in Canada. The International Indigenous Policy Journal, 5(3). DOI:10.18584/iipj.2014.5.3.6 ● Hampshire, G. Alexis School. CBC News.
https://www.cbc.ca/news2/interactives/gradingthegap/alexis.html
- Harris, K. (2020, June 18). Canada loses its bid for seat on UN Security Council. CBC News. https://www.cbc.ca/news/politics/united-nations-security-council-canada-1.5615488
- Indigenous Corporate Training Inc. (2015, April 8). What Is The Root Cause Of Indigenous Education Issues. Indigenous Corporate Training Inc. https://www.ictinc.ca/blog/what-is-theroot-cause-of-indigenous-education-issues
- Indigenous Corporate Training Inc. (2023, February 28). Inadequate Housing And Crowded Living Conditions – #3 Of 8 Key Issues. Indigenous Corporate Training Inc.
https://www.ictinc.ca/blog/inadequate-housing-3-of-8-key-issues
- Indigenous Corporate Training Inc. (2023, January 31). Lower Education – #2 Of 8 Key Issues For Indigenous Peoples In Canada. Indigenous Corporate Training Inc.
https://www.ictinc.ca/blog/lower-education-2-of-8-key-issues
- Kaufmann, B. (2023, July 12). ‘Living in cars’: U of C students face worsening housing shortage. Calgary Herald. https://calgaryherald.com/news/local-news/living-in-cars-u-of-cstudents-face-worsening-housing-shortage
- Layton, J. (2023, June 21). First Nations youth: Experiences and outcomes in secondary and postsecondary learning. Statistics Canada. https://www150.statcan.gc.ca/n1/en/pub/81-599x/81-599-x2023001-eng.pdf?st=r2KEXQZ0
- Office of the Auditor General of Canada. (2018, April 11). Report 5—Socio-economic Gaps on First Nations Reserves—Indigenous Services Canada. Office of the Auditor General of Canada. https://www.oag-bvg.gc.ca/internet/English/parl_oag_201805_05_e_43037.html
- Office of the Child, Youth and Seniors’ Advocate. (2022, 21 June). Advocate Releases Office of the Child Report. New Brunswick Canada.
https://www2.gnb.ca/content/gnb/en/news/news_release.2022.06.0328.html
- Tran, P. (2023, July 12). University of Calgary Students’ Union pushes for affordable housing as rents rise. Global News. https://globalnews.ca/news/9825799/university-of-calgarystudents-housing-insecure/
- Wong, J. (2022, November 3). Antisemitic conspiracies are rampant online. Students, experts share how to combat them. CBC News. https://www.cbc.ca/news/canada/educationantisemitism-socialmedia-1.6636739

No comment yet, add your voice below!