Latar Belakang Negara
Malaysia, yang telah meraih kemerdekaan dari penjajahan Inggris pada 1957, telah berhasil merubah sektor ekonomi mereka dari berbasis agrikultur menjadi produsen dan penyedia jasa. Pelebaran sektor industri ini telah menjadikan mereka sebagai eksporter utama dalam peralatan eletrik dan komponennya. (World Bank, 2022).
Dalam dua dekade belakangan ini, negara dengan berbagai kultur ini telah menjadi negara dengan ekonomi menengah-atas. Pertumbuhan dalam pengurangan kemiskinan pun telah terlihat dengan pendapatan kemiskinan telah menurun sekitar 50% di tahun 1970 dan sekitar 0.4% di tahun 2016 (UNICEF, 2022). Sejak 2010, Malaysia telah bertumbuh dalam ekonomi sekitar 5.4% per tahun dan diprediksi untuk menjadi negara dengan ekonomi atas pada 2024 (World Bank, 2022).
Akan tetapi, pandemi COVID-19 telah meninggalkan efek negatif di Malaysia, terutama pada masyarakat yang rentan. Berdasarkan revisi angka kemiskinan di Juli 2020, 5.6% masyarakat Malaysia sekarang berada dalam kemiskinan absolut. (UNICEF, 2022). Pandemi telah menyebabkan masalah yang berefek pada anak-anak, remaja dan wanita dalam berbagai situasi.
Sistem Pendidikan di Malaysia
Berdasarkan sistem pendidikan nasional, setelah seorang anak berusia 6 tahun, mereka diharuskan menempuh pendidikan selama minimal 6 tahun. Sekolah dari pemerintah menyediakan pendidikan gratis selama 11 tahun dalam bentuk sekolah dasar dan sekolah menengah. Pendidikan dini (seperti Taman Kanak-Kanak (TK)) tidak diwajibkan di Malaysia, namun, tetap tersedia untuk anak-anak berusia 4 tahun ke atas. Menurut Laporan Tahunan Kementerian Pendidikan di 2017, pendaftaran untuk pendidikan dini bagi anak-anak usia 4 ke atas mencapai 84.3% (Ministry of Education of Malaysia, 2018).
Pendaftaran dan penerimaan sekolah dasar dan menengah di Malaysia termasuk cukup tinggi dengan terus meningkatnya angka tersebut di setiap tingkatnya sejak tahun 2013. Pendaftaran dan penerimaan sekolah menengah akan tetapi lebih rendah daripada sekolah dasar dan angka tersebut menurun 10% dari tingkat menengah atas dan menengah pertama. Tersedia sekolah dari pemerintah, swasta, internasional, dan berbasis agama untuk pendidikan atas (Ministry of Education of Malaysia, 2018).
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dari Agenda Pendidikan 2030 telah dialokasikan sekitar 4% dari Produk Domestik Bruto (GDP) dan 15% dari pengeluaran nasional terutama pada bidang pendidikan (UNESCO, 2022). Sekitar 4.77% dari Produk Domestik Bruto (GDP) dan 21% dari total pengeluaran pemerintah di 2017 telah dialokasikan pada pendidikan. Menurut data terbaru, Malaysia telah mengurangi pengeluaran untuk pendidikannya dari 5.8% di 2011 menjadi 3.9% di 2020 (World Bank Data, 2023). Ini tertinggi dibandingkan negara ASEAN lainnya. Pengeluaran untuk pendidikan juga adalah pengeluaran tertinggi pemerintah Malaysia.
Dalam Perencanaan Pendidikan Malaysia 2013-2025 terdapat 5 tujuan yang menjadi motivasi di sistem pendidikan Malaysia: akses, kualitas, kesatuan, dan efisiensi. Untuk mencapai ini semua, akses menyeluruh dalam pendidikan dan hilangnya kesenjangan harus tercapai. Kementerian pun telah berkomitmen untuk meningkatkan pendaftaran dan penerimaan sekolah dasar serta mengurangi angka putus sekolah di daerah. (Abu Bakar, 2022).
Untuk mencapai kedua tujuan pendidikan ini yaitu “akses” dan “keadilan”, pemerintah telah menyediakan bantuan tambahan dan berbagai program, termasuk program bantuan dalam keuangan, program untuk pendidikan khusus, dan program khusus untuk komunitas Orang Asli. Kementerian Pendidikan juga telah menggabungkan teknologi dalam ruang kelas untuk meningkatkan proses belajar-mengajar. Walaupun telah terdapat berbagai usaha dari pemerintah, masih ada berbagai tantangan yang menghambat pendidikan di Malaysia.
Masalah Utama dalam Pendidikan di Malaysia
Kualitas Pendidikan
Kualitas dalam pendidikan telah menjadi isu utama, dengan hampir 60% siswa berusia 15 tahun gagal memenuhi minimum standar kompetensi (Anderson & Barrett, 2020). Walaupun berbagai perubahan telah dijalankan selama berbagai tahun ke belakang, siswa di Malaysia masih berada di bawah rata-rata performa siswa internasional.
Dalam tes PISA baru-baru ini (2018), hanya 54% siswa yang mencapai standar minimum dalam membaca, 59% dalam matematika, dan 63% dalam ilmu pengetahuan alam, dibandingkan dengan rata-rata OECD yang mencapai 77% dalam membaca, 76% dalam matematika dan 78% dalam ilmu pengetahuan alam. (OECD, 2019). Hal ini menunjukkan bahwa pengeluaran pemerintah yang sangat tinggi tersebut kemungkinan belum dialokasikan pada faktor yang tepat.
Kualitas guru yang rendah juga merupakan hambatan dalam kualitas serta hasil belajar: 93% kandidat yang mendaftar jurusan pendidikan dan 70% yang telah diterima tidak memiliki kualifikasi yang cukup, dan hanya 3% saja yang termasuk kategori performa tinggi (UNICEF Malaysia, 2019). Selain itu, kurangnya otonomi dalam pendidikan juga merupakan suatu tantangan. Peneliti menemukan bahwa kurikulum serta cara mengajar yang kaku menghambat proses belajar yang berkualitas, dan sentralisasi yang tinggi dalam sistem pendidikan juga menghambat efisiensi dalam distribusi jasa pendidikan (Anderson & Barrett, 2020).
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, pengeluaran pemerintah pada bidang pendidikan telah sangat tinggi dibandingkan negara lainnya di Asia Tenggara. Akan tetapi, jumlah yang dialokasikan ke tiap sekolah ditentukan berdasarkan jumlah murid yang mendaftar pada sekolah tersebut, bukan pada kebutuhan sekolah maupun status sosio-ekonomi tiap murid. (Abu Bakar, 2022). Hal ini menyebabkan sekolah dengan murid yang lebih sedikit di daerah terpencil mendapatkan bantuan yang lebih sedikit pula.
Dibandingkan dengan murid di kota-kota besar, orangtua di daerah terpencil tentu mempunyai pendapatan yang lebih sedikit. Mereka tidak mampu memberikan anak mereka fasilitas serta barang yang diperlukan untuk pendidikan yang lebih baik. Kesenjangan dalam kualitas pendidikan ini sangat terlihat di antara daerah perkotaan dan daerah terpencil. Hasilnya adalah pencapaian murid di kota besar tentu lebih tinggi. Masalah inilah yang memunculkan ketidakadilan di antara sekolah-sekolah di daerah maju dan daerah terpencil.
Titik lemah lainnya yang memisahkan daerah maju dan daerah terpencil adalah pada ketersediaan konektivitas internet untuk mendukung e-learning. Koneksi internet yang tidak memadai dan perangkat yang terbatas merupakan masalah utama dalam proses belajar-mengajar di daerah terpencil.
Isu yang paling sering dikritik mengenai kualitas pendidikan adalah silabus pembelajaran. Menurut para pengajar pendidikan dasar dan menengah, silabus mereka terlalu sulit dan tidak masuk akal bagi murid-murid. Jumlah murid yang banyak per kelas, jumlah mata pelajaran, dan tas sekolah yang kian berat mempengaruhi kesehatan para murid. Mata pelajaran yang sulit menimbulkan beban bukannya kesenangan untuk belajar bagi para murid dan hal ini menurunkan tingkat keberhasilan mereka. (The Malaysian Reserve, 2022).
Akses Pendidikan dan Kesenjangan Gender
Kebanyakan anak-anak di Malaysia mendapatkan pendidikan selama 11 tahun, namun, angka putus sekolah masih kian tinggi. Murid pendidikan menengah lebih berisiko untuk putus sekolah dibandingkan anak-anak yang lebih muda di pendidikan dasar. Menurut Kementerian Pendidikan, ada beberapa faktor yang menyebabkan isu ini: kurangnya partisipasi dari orangtua; kemiskinan; rendahnya motivasi; dan rendahnya kemampuan akademis. (Ministry of Education of Malaysia, 2018).
Pihak yang paling rentan dalam akses pendidikan adalah anak-anak disabilitas dan pengungsi internasional. 1 diantara 3 anak disabilitas telah putus dari sekolah. Anak-anak dengan kebutuhan khusus (SEN) dapat diartikan sebagai anak-anak dengan keterbatasan dalam penglihatan, pendengaran, komunikasi, dan fisik, keterbatasan dalam belajar, ataupun kombinasi di antara keterbatasan dan kesulitan dalam Peraturan Pendidikan 2013 (Pendidikan Spesial/Khusus) (Yan-Li & Sofian, 2018). Perlu dicatat, anak-anak dengan keterbatasan dalam kesehatan mental atau kelakuan tidak termasuk dalam klasifikasi ini.
Kurangnya akses pendidikan dan angka putus sekolah berbeda pada tiap tingkat pendidikan dan gender. Kesenjangan antara gender lebih terlihat pada sekolah menengah dimana 7.5% siswa laki-laki lebih berisiko untuk putus sekolah dibandingkan dengan siswa perempuan (3.7%) (Rosati, 2022). Siswa laki-laki lebih dalam tekanan untuk putus sekolah dikarenakan berbagai alasan. Terkadang mereka terpaksa putus sekolah dan bekerja untuk membantu keuangan keluarga mereka.
Angka pendaftaran dan penerimaan gross sekolah menengah pada 2017 adalah sekitar 88.4% untuk siswa perempuan dan 84.1% untuk siswa laki-laki. Demikian pula pada pendidikan atas. Angka pendaftaran dan penerimaan pada pendidikan lanjutan adalah 45.5% untuk siswa perempuan dan 38.7% untuk siswa laki-laki (Anderson & Barrett, 2020). Namun, keuntungan yang siswa perempuan dapatkan terkait akses sekolah dan hasil belajar hilang begitu saja saat mereka menjadi angkatan kerja.
Dalam Program untuk Penilaian Siswa Internasional (PISA) 2018, siswa perempuan di Malaysia meraih 7 poin lebih tinggi daripada siswa laki-laki dalam bidang matematika, yang berarti lebih tinggi dibandingkan rata-rata OECD. Diantara siswa yang berhasil meraih nilai tinggi, 2 dari 5 siswa laki-laki berkeinginan menjadi insinyur atau pekerjaan sains profesional lainnya, sedangkan hanya 1 dari 7 siswa perempuan yang berkeinginan karir yang sama. (OECD, 2019). Hal ini menunjukkan walaupun siswa perempuan lebih unggul dalam matematika dan sains di ujian nasional, peran gender dan norma sosial menyebabkan siswa perempuan masih tertinggal dalam memilih pekerjaan.
Sekalipun pemerintah telah lebih fokus dalam pendidikan sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM), siswa perempuan tidak memilih mata pembelajaran ini di universitas. Fenomena ini berkaitan dengan proses belajar-mengajar di sekolah menengah yang tidak memotivasi perempuan untuk tertarik pada topik ‘pria’. Norma sosial yang ada lebih merepresentasikan perempuan sebagai guru atau asisten rumah tangga terkait karir. (Asadullah, 2020).
Pernikahan dini (anak-anak) juga merupakan salah satu hambatan lainnya dalam melanjutkan pendidikan. Walaupun seseorang masih dianggap sebagai anak-anak sampai usia 18 tahun, pernikahan pada usia 16 hingga 18 dianggap sah dengan surat izin di Malaysia. Karena hal ini, tentunya perempuan akan keluar dari sekolah. Kementerian Wanita, Keluarga, dan Pengembangan Komunitas (MWFCD) telah mengembangkan Strategi Nasional dan Rencana Aksi untuk menghapuskan pernikahan dini di 2019, walaupun oposisi pada tingkat nasional hingga pemberhentian total terus terjadi. Walaupun Malaysia telah menerapkan berbagai tindakan dalam pendidikan sex menyeluruh (CSE), efek dari tindakan ini tidak begitu efektif karena kurangnya pelatihan guru dan kurangnya waktu untuk pelajaran Kesehatan Seksual dan Reproduksi (SRH) dalam kurikulum sekolah (UNICEF, 2019).
Kerugian yang dialami anak-anak pengungsi internasional
Anak-anak pengungsi internasional tidak memiliki akses dalam sistem pendidikan formal, karena itulah mereka mengakses pendidikan melalui pusat pembelajaran non formal komunitas. Alasan utama di balik ini adalah dikarenakan pengungsi internasional dianggap tidak sah di Malaysia. Kurangnya pekerjaan sah untuk pengungsi internasional di Malaysia menyebabkan mereka tidak mampu mendapatkan pendapatan yang cukup untuk kebutuhan dasar anak-anak mereka. Terlebih lagi, kemiskinan dan keputusasaan ini menyebabkan anak-anak memilih untuk bekerja dan mencari uang. Kebanyakan anak-anak pengungsi internasional terpaksa meminta di jalanan (UNHCR, 2022). Jikalau ada kesempatan untuk para pengungsi internasional untuk bekerja secara sah dan memenuhi kebutuhan keluarga mereka, anak-anak pengungsi ini pasti dapat menempuh pendidikan.
Berdasarkan data dari UNHCR, 44% anak pengungsi berusia 6 hingga 13 tahun terdaftar di sekolah dasar, dan angka ini menurun secara drastis pada sekolah menengah hingga ke 16%. Dari 23,823 anak-anak berusia siap sekolah, hanya 30% yang terdaftar di pusat pembelajaran komunitas. Pendidikan pre – sekolah dasar untuk usia 3 hingga 5 juga hanya 14%. Pusat pembelajaran juga sangat terbatas dan tidak dapat diakses dengan mudah oleh anak-anak pengungsi. Di Malaysia Barat, hanya terdapat 133 pusat pembelajaran untuk para pengungsi internasional. (UNHCR, 2023).
Kebanyakan pusat pembelajaran didukung oleh UNHCR dan organisasi non-pemerintahan lainnya. Beberapa kontribusi terhadap pembelajaran non-formal yang paling berkesan adalah Sekolah Komuniti Rohingya (SKR) dan Institut Persatuan Arakan Malaysia (UAIM) (Palik, 2020). Dua organisasi berbasis komunitas ini memegang peranan penting bagi anak-anak pengungsi internasional. Terlepas dari semua usaha ini, pendidikan non-formal tidak sah dalam mencari pekerjaan.
Malaysia adalah salah satu negara transit yang penting bagi pengungsi internasional. Ada hampir sekitar 178,900 pengungsi internasional dan pencari suaka yang terdaftar dalam UNHCR di negara ini. 154,080 darinya berasal dari Myanmar, termasuk 101,010 warga Rohingya. Hal ini menunjukkan betapa beragamnya etnis para pengungsi internasional yang datang dari Myanmar ke Malaysia. Para pengungsi internasional Rohingya telah datang sejak tahun 1990 akhir. Sayangnya, belum ada kamp pengungsi internasional maupun pengakuan yang sah secara hukum mengenai status pengungsi internasional di Malaysia. Juga terdapat 46,000 anak-anak pengungsi internasional yang berusia di bawah 18 tahun dengan perlindungan terbatas (Palik, 2020).
Hak kewarganegaraan sejak lahir pun juga tidak tersedia yang menyebabkan anak-anak ini lebih sulit dalam mendapatkan pendidikan formal dan mencari pekerjaan. Terlepas dari mendapatkan pendidikan formal sangatlah sulit, para orangtua pengungsi internasional Rohingya menolak untuk mengirimkan anak-anak perempuan mereka ke pusat pembelajaran non-formal dikarenakan adat dan kepercayaan agama. Kebanyakan orangtua lebih memilih anak-anak perempuan untuk mengerjakan pekerjaan rumah daripada mengikuti pendidikan dengan para laki-laki.
Keadaan di Myanmar memaksa para warganya untuk kabur dan mencari suaka di negara-negara lain. Deportasi yang diterapkan Malaysia terhadap pencari suaka Myanmar terus diterapkan, dan para pengungsi internasional yang tersisa masih membutuhkan akses untuk kebutuhan dasar mereka. Prinsip untuk tidak mengembalikan paksa sangatlah penting di hukum internasional dan diwajibkan untuk diterapkan di semua negara.
Di saat yang sama, Malaysia belum menandatangani Konvensi Pengungsi Internasional 1951 dan Protokol 1967. Karena hal inilah, Malaysia tidak memiliki peraturan hukum ataupun secara administratif dalam menghadapi pengungsi internasional dan tidak menerapkan mekanisme apapun untuk melindungi dan mengakui para pencari suaka dan pengungsi internasional di wilayahnya.
Tantangan COVID-19
Dikarenakan pandemi, pendidikan pun menjadi terhambat dan sekolah-sekolah turut kesulitan dari buka-tutup yang terus terjadi. Menurut Studi UNICEF/UNFPA dalam keluarga ekonomi rendah, sekitar 21% anak-anak tidak termasuk dalam pembelajaran daring apapun selama Periode Pergerakan dalam Kontrol, sedangkan 45% lainnya tidak mampu belajar secara efektif karena kurangnya akses perangkat elektronik (UNICEF, 2020). Anak-anak migran dan anak-anak disabilitas bahkan lebih kurang berpartisipasi dalam pembelajaran daring dan ini meningkatkan risiko angka putus sekolah dan kesenjangan antara kelompok.
Kesimpulan
Walaupun Malaysia adalah negara berkembang, masih banyak aspek pendidikan yang butuh diperbaiki. Isu utama dari pendidikan di negara ini adalah anak-anak pengungsi internasional yang tidak memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan formal. Tanpa pendidikan formal, anak muda pengungsi internasional tidak memiliki kesempatan untuk mencari kerja. Juga, kualitas pendidikan pun perlu diperbaiki. Guru-guru perlu memiliki pendidikan yang lebih tinggi dan lebih baik agar dapat menjadi pengajar yang lebih berkualitas. Anggaran pun harus dialokasi kembali untuk menghapus kesenjangan antara daerah maju dan terpencil demi hak pendidikan yang adil. Terlepas dari insentif dari pemerintah dalam bidang sains, perempuan perlu mendapat dukungan untuk mengambil program teknik dan sains di universitas, karena mereka lebih baik dalam matematika pada ujian. Norma sosial yang menyebabkan perempuan tertinggal juga harus direvisi agar kesetaraan gender dan angkatan kerja yang lebih berkualitas dapat terwujud di masa depan. Kesetaraan gender bagi laki-laki juga harus terjamin oleh pemerintah melalui kampanye baru lagi. Melalui cara ini, angka putus sekolah siswa laki-laki dapat berkurang dan keberhasilan siswa perempuan juga dapat tercapai. Ekonomi yang berkembang yang dialami oleh Malaysia bersandar pada angkatan kerja dengan siswa-siswi yang berkualitas.
Translated from: Education Challenges in Malaysia: Low Quality of Education in a Rising Economy
























